Sunday, March 18, 2012

Otak Kiri juga Mainkan Peran dalam Berpikir Kreatif

Ghiboo.com - Jika Anda tipe orang kreatif, Anda mungkin sering mendengar dan beranggapan bahwa otak kanan Anda lebih dominan bekerja dibandingkan otak kiri. 

Namun, penelitian yang dilakukan oleh University of Southern California menemukan bahwa bagian otak kiri Anda, berkaitan dengan logika dan matematika, ternyata juga memainkan peran penting dalam berpikir kreatif.

Untuk membuktikannya, peneliti melakukan percobaan yang melibatkan mahasiswa arsitektur. Peneliti menggunakan scan otak (fMRI) pada partisipan dan meminta para partisipan untuk melihat tiga bentuk, yaitu lingkaran, huruf C dan angka 8.

Para partisipan kemudian diminta untuk membuat sebuah tes kreatif dengan membayangkan tiga bentuk tersebut dibuat menjadi sebuah persegi atau persegi panjang.

Hasil temuan yang dipublikasikan dalam journal Social Cognitive and Affective Neurosciencemenemukan dalam hasil scan otak, selama partisipan membayangkan tugas kreatif tersebut yang sebagian besar ditangani otak kanan, namun sebenarnya otak kiri juga bekerja untuk mendukung kreativitas otak kanan.

"Kita butuh kedua bagian tersebut untuk berpikir kreatif," ujar Aziz-Zadeh, assistant professor of neuroscience yang masuk dalam tim peneliti, dilansir dari redorbit, beberapa hari lalu.


Anda Sering Nyeri Dada? Waspadalah...

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA --  Masyarakat perlu mewaspadai nyeri dada atau "chest pain" karena merupakan salah satu gejala dari penyakit yang dalam waktu singkat dapat mengakibatkan kematian, kata pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Nahar Taufiq.
"Oleh karena itu, nyeri dada perlu mendapatkan penanganan serius. Penyebab nyeri dada umumnya berasal dari gangguan jantung, saluran cerna, musculoskeletal, serta kondisi paru dan saluran napas," katanya di Yogyakarta, Sabtu.
Pada diskusi "Continuing Education", ia mengatakan, nyeri dada merupakan keluhan yang sering ditemukan pada unit perawatan akut atau gawat darurat. Hampir 40 persen orang di Indonesia mengalami nyeri dada.
"Pada umumnya penanganan nyeri dada pada penderita yang datang ke ruang gawat darurat tetap sama sesuai dengan standar, tetapi dalam waktu 10 menit penderita sakit dada sudah harus dibedakan dalam empat kategori," katanya.
Ia mengatakan, penderita nyeri dada dapat diklasifikasikan dalam empat kategori, yaitu kategori P (Priority Risk), kategori A (Advance Risk), kategori I (Intermediate Risk), dan kategori N (Negatif/Low Risk).
"Setiap kategori itu memiliki alur penanganan lanjutan masing-masing," kata dosen Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Menurut dia, penderita dengan kategori P adalah penderita dengan gejala sakit dada angina yang khas infark disertai satu dari kriteria infark dalam rekaman EKG.
"Kategori A terjadi sakit dada lebih dari 20 menit dan akut infark miokard dalam empat minggu terakhir dan ada gangguan hemodinamik," katanya.
Ia mengatakan, pada kategori I besar kemungkinan terjadi mekatian atau infark miokard dalam 30 hari sebesar 4-8 persen dan memiliki gejala seperti pada kelompok A.
"Kategori N kemungkinan terjadi kematian atau infark miokard dalam 30 hari adalah kurang dari dua persen dengan pemberian aspirin nitrat sublingual," kata Nahar.


Stres? Atasi dengan Musik dan Tertawa!

Ghiboo.com - Saat Anda sedang stres, cemas atau tidak bisa tidur, ternyata menyetel musik atau lelucon lucu bisa membuat tubuh lebih rileks. 

Penelitian baru dari peneliti Jepang menemukan bahwa mendengar lagu favorit atau menikmati humor dapat menurunkan tekanan darah, bahkan sama banyaknya dengan mengurangi konsumsi garam dalam makanan Anda dan dapat mengurangi berat badan hingga 10 pon atau 4,5 kg.

Penelitian yang dipimpin oleh Eri Eguci menganalisis beberapa orang berusia 40-74 tahun. Para partisipan diminta untuk mengikuti sebuah sesi penelitian selama dua kali dalam sebulan yang dirancang untuk mendengarkan musik favoritnya, mendengarkan lelucon lucu atau tidak sama sekali.

Pada tiga bulan kemudian, peneliti menemukan partisipan yang terpapar musik atau tawa mengalami penurunan rata-rata tekanan darah sistolik sekitar lima hingga enam poin. Sedangkan partisipan yang tidak mendengarkan musik atau cerita lucu tidak mengalami perubahan tekanan darah.

Penurunan tekanan darah sekitar lima hingga enam poin berkaitan dengan risiko 5-15 persen lebih rendah dari kematian akibat penyakit jantung atau stroke. "Ini semacam cara alami untuk meningkatkan kesehatan Anda, tapi saya tidak akan merekomendasikan Anda untuk menghentikan konsumsi obat yang telah disarankan dokter," ungkap Michael Miller, MD, direktur kardiologi preventif di University of Maryland Medical Center, di Baltimore, dilansir melalui Huffingtonpost, Senin (12/3).

Penelitian sebelumnya dari University of Maryland oleh Dr Michael Miller menunjukkan bahwa orang mendengarkan musik upbeat dapat meningkatkan kemampuan pembuluh darah hingga 26 persen. Penelitian lain menggunakan hewan menunjukkan bahwa musik, seperti Mozart, bisa mengubah kadar kalsium dan dopamin dalam otak. Sedangkan penelitian lain pada manusia menunjukkan bahwa musik santai, seperti Pachelbel's Canon in D major, dapat menurunkan kadar hormon stres kartisol.